LAPORAN PRAKTIKUM
SPEKTROMETRI
VIRTUAL SPEKTROFOTOMETRI
NAMA : Dian
Fatmawati
NIM : 101810301042
KELOMPOK : 12
FAK. / JURUSAN : FMIPA/ KIMIA
LABORATORIUM KIMIA ANALITIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2012
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alat
yang digunakan untuk mengukur absorbansi suatu larutan adalah spektrofotometer.
Kerjanya yaitu dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu
pada sampel dalam kuvet. Cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan
dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan
konsentrasi larutan di dalam kuvet.
Analisis suatu komponen secara spektrometri menggunakan
landasan hukum dasar Lambert-Beer. Hukum Lambert-Beer mengemukakan tentang
serapan sinar atau energi radiasi oleh spesies kimia secara kuantitatif. Prinsip penggunaan
spektrometer dapat diolah dalam alat komputasi yang dinamakan
virtual spektrofotometer. Alat yang digunakan dalam
percobaan ini adalah komputer yang bertujuan untuk memahami cara menggunakan spektrofotometer dan prinsip dasar
spektrotometri UV-VIS.
Berdasarkan latar
belakang diatas praktikan melakukan praktikum tentang pengguanaan virtual spektrometer agar mahasiswa
dapat menggunakan virtual spectrometer.
1.2 Tujuan Percobaan
Mahasiswa
memahami cara menggunakan spektrofotometer dan prinsip dasar spektrotometri
uv-vis melalui media interaktif tanpa bersentuahn dengan bahan kimia dan
instrumen yang sebenarnya.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 MSDS Bahan
2.1.1 Kobalt
klorida
Kobalt klorida
merupakan senyawa anorganik yang digunakan sebagai indikator untuk air dalam
bahan mencetak tekstil, karena perubahan warna dramatis dan mudah mengalami dehidrasi. Mawar heksahidrat adalah
salah satu senyawa kobal yang paling umum di laboratorium. Kobal klorida
terutama digunakan untuk elektroplating kobal dan untuk persiapan reagen yang
digunakan dalam sintesis organic. Sifat fisik dan sifat kimianya yaitu :
·
Massa molar :
129,839 g/mol
·
Titik lebur :
735 ° C
·
Titik leleh :
1049 ° C
·
Kelarutan dalam air : 43,6
g/100 mL (0 ° C)
·
Kelarutan :
larut dalam aseton, etanol, dan eter
Larutan ini beracun dan
menyebabkan nyeri perut, mual, muntah, pembilasan dari wajah dan telinga, hipotensi
ringan, ruam, dan nada di telinga Mungkin memiliki tindakan beracun kumulatif
di mana penghapusan tidak dapat mengikuti penyerapan. Sejumlah besar menekan
produksi eritrosit. Sebaiknya kobalt klorida ini disimpan dalam wadah tertutup
rapat, disimpan di tempat yang kering, berventilasi, di daerah dingin.
Melindungi terhadap kerusakan fisik. Isolat dari zat-zat yang tidak kompatibel.
Cuci tangan sebelum makan dan minum, atau merokok di tempat kerja. Cuci Wadah
bahan ini mungkin berbahaya ketika kosong karena mereka mempertahankan residu
produk (debu, padat); amati semua peringatan dan tindakan pencegahan yang
terdaftar untuk produk (Anonim,2012).
2.1.2 Aquades
Air
adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O. Satu molekul
air tersusun atas dua atom
hidrogen
yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen.
Air bersifat tidak berwarna,
tidak berasa
dan tidak berbau
pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur
273,15 K (0 °C). Memiliki massa molar 18.0153 g/mol, massa jenis 0.998
g/cm³ (cariran pada 20 °C)
0.92 g/cm³ (padatan), titik didih 100 °C (373.15 K) (212 °F). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik (Anonim, 2012).
0.92 g/cm³ (padatan), titik didih 100 °C (373.15 K) (212 °F). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik (Anonim, 2012).
Keadaan air yang berbentuk cair merupakan suatu keadaan yang
tidak umum dalam kondisi normal, terlebih lagi dengan memperhatikan hubungan
antara hidrida-hidrida lain yang mirip dalam kolom oksigen pada tabel periodik, yang
mengisyaratkan bahwa air seharusnya berbentuk gas, sebagaimana hidrogen sulfida. Dengan
memperhatikan tabel periodik, terlihat bahwa unsur-unsur yang mengelilingi
oksigen adalah nitrogen, flor, dan fosfor, sulfur dan klor (Anonim,2012).
2.2
Virtual spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang
didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan
berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma
atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometer adalah alat untuk
mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang
gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang
digunakan sering disebut dengan spektrofotometri (Basset, 1994:167).
Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan
suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi.
Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan
dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas
untuk komponen yang berbeda (Khopkar,2008:201).
Skema
spektrofotometer pada umumnya
|
|
|
Sumber cahaya
|
|
monokromator
|
|
sampel
|
|
detektor
|
|
amplifier
|
|
Piranti pembaca
|
(Aisyah, 2008: 1).
Komponen utama dari spektrofotometer yaitu :
1. Sumber cahaya
Untuk radisi kontinue :
A. Untuk daerah UV dan daerah tampak :
- Lampu
wolfram (lampu pijar) menghasilkan spektrum kontiniu pada gelombang 320-2500
nm.
- Lampu
hidrogen atau deutrium (160-375 nm)
- Lampu
gas xenon (250-600 nm)
B. Untuk daerah IR
Ada tiga macam sumber sinar yang dapat digunakan :
- Lampu
Nerst,dibuat dari campuran zirkonium oxida (38%) Itrium oxida (38%) dan
erbiumoxida (3%)
- Lampu
globar dibuat dari silisium Carbida (SiC).
- Lampu
Nkrom terdiri dari pita nikel krom dengan panjang gelombang 0,4 – 20 nm
- Spektrum
radiasi garis UV atau tampak :
- Lampu
uap (lampu Natrium, Lampu Raksa)
- Lampu
katoda cekung/lampu katoda berongga
- Lampu
pembawa muatan dan elektroda (elektrodeless dhischarge lamp)
- Laser
2. Pengatur Intensitas
Berfungsi untuk mengatur intensitas sinar
yang dihasilkan oleh sumber cahaya agar sinar yang masuk tetap konstan.
3. Monokromator
Berfungsi untuk merubah sinar polikromatis
menjadi sinar monokromatis sesuai yang dibutuhkan oleh pengukuran
Macam-macam monokromator :
-Prisma
-Kaca untuk daerah sinar tampak
-Kuarsa untuk daerah UV
-Rock salt (kristal garam) untuk daerah IR
-Kisi difraksi
Keuntungan menggunakan kisi :
-Dispersi sinar merata
-Dispersi lebih baik dengan ukuran
pendispersi yang sama
-Dapat digunakan dalam seluruh jangkauan
spektrum
4. Kuvet
Pada pengukuran di daerah sinar tampak
digunakan kuvet kaca dan daerah UV digunakan kuvet kuarsa serta kristal garam
untuk daerah IR.
5. Detektor
Fungsinya untuk merubah sinar menjadi energi
listrik yang sebanding dengan besaran yang dapat diukur.
6. Penguat (amplifier)
Berfungsi untuk memperbesar arus yang
dihasilkan oleh detektor agar dapat dibaca oleh indikator.
7. Read Out
Dapat berupa recorder atau computer (Alfa,2009:1).
Mesin virtual atau mesin maya (Inggris: virtual machine, disingkat vm)
dalam ilmu komputer adalah implementasi perangkat lunak dari sebuah mesin
komputer yang dapat menjalankan program sama seperti layaknya sebuah komputer
asli. Mesin virtual terdiri dari dua kategori besar, dipisahkan menurut cara
penggunaan dan tingkat keterhubungannya dengan mesin-mesin aslinya. Sebuah mesin
virtual sistem adalah perangkat yang berupa platform sistem yang lengkap dan
dapat menjalankan sebuah sistem operasi yang lengkap pula. Sebaliknya, mesin
virtual proses didesain untuk menjalankan sebuah program komputer tertentu
(tunggal), yang berarti mesin virtual ini mendukung proses tertentu juga.
Karakteristik mendasar dari sebuah mesin virtual adalah batasan-batasan bagi
perangkat lunak yang berjalan di dalam mesin tersebut, sumber daya yang
dibatasi, dan tidak dapat mengakses ke luar tembok batasan dunia maya itu
(Anonim,2012).
BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 ALAT DAN BAHAN
3.1.1 Alat
·
Virtual spektrometer
3.1.2 Bahan
·
Larutan CoCl42-
·
Larutan Co(H2O)62+
·
Aquades (blanko)
3.2 SKEMA KERJA
3.2.1 Penentuan panjang gelombang dengan serapan
maksimum dari larutan CoCl4-2 dan Co(H2O)6+2
a. Larutan Co(H2O)2+
Pengukuran
absorbansi dengan kenaikan panjang gelombang 50 nm
|
Larutan Co(H2O)2+
|
- Ditekan tombol molarity mode pada tombol persegi berwarna biru dibagian bawah kiri
agar berada pada posisi wavelength mode
- Dilihat kotak berwarna kuning di sebelah kiri
gambar V-Spektrometer dimana di dalamnya terdapat dua kuvet yaitu untuk sampel
(dapat di gunakan untuk dua larutan) dan untuk blanko (aquades)
- Dibuka tempat kuvet di V-Spektrometer dengan
menekan kotak tombol yang bertuliskan Click here to open
-
Diarahkan kursor ke kuvet yang berisi aquades
- Ditekan dan ditarik kuvet tersebut ke dalam
tempat kuvet sambil tetap menekan mouse kiri.
-
Ditutup tempat kuvet dengan menekan tombol click here to close.
-
Dibuat
panjang gelombang 350nm.
-
Diset
pembacaan V-Spektrometer pada absorban nol
dengan menekan tombol yang bertuliskan 0 ABS / 100%T.
-
Dibuka tempat kuvet
-
Dikembalikan kuvet pada tempat semula dengan
menekan tombol biru bertuliskan Remove cuvette.
-
Dimasukkan larutan
kedalam tempat kuvet di V-Spektrometer dengan cara yang sama
seperti menempatkan kuvet blanko.
-
Ditutup tempat kuvet
-
Dicatat nilai absorban yang ditampilkan pada
display.
-
Diperhatikan tampilan kurva hubungan antara
absorban dan panjang gelombang
-
Dibuka tutup tempat kuvet
-
Dikembalikan kuvet di tempatnya semula.
-
Dinaikkan nilai panjang gelombang menjadi 400nm
dengan menekan tombol naik (berwarna kuning) yang terletak tepat di bawah
display.
-
Diulangi untuk setiap kenaikan panjang gelombang
sebesar 50nm sampai mencapai panjang gelombang 750nm
|
Hasil
|
|
Larutan Co(H2O)2+
|
-
Dilihat kurva yang didapat dari panjang
gelombang (350-750 nm)
-
Diulangi langkah langkah seperti pada panjang
gelombang dengan kenaikan 50 nm dengan mengubah
kenaikan panjang gelombangnya menjadi 5 nm
-
Digunakan daerah panjang gelombang yang diduga
merupakan panjang gelombang dengan serapan terbesar
-
Ditentukan panjang gelombang dengan serapan
maksimal
|
Hasil
|
b. Larutan CoCl4-2
Pengukuran absorbansi dengan
kenaikan panjang gelombang 50 nm
|
Larutan CoCl4-2
|
-
Diset alat V-spektrometer seperti pada larutan Co(H2O)2+
-
Dibuat
panjang gelombang 350nm
-
Diset pembacaan V-Spektrometer pada absorban
nol dengan menekan tombol yang
bertuliskan 0 ABS / 100%T
-
Dibuka tempat kuvet
-
Dikembalikan kuvet pada tempat semula dengan
menekan tombol biru bertuliskan Remove cuvette.
-
Dimasukkan larutan
kedalam tempat kuvet di V-Spektrometer dengan cara yang sama
seperti menempatkan kuvet blanko.
-
Ditutup tempat kuvet
-
Dicatat nilai absorban yang ditampilkan pada
display.
-
Diperhatikan tampilan kurva hubungan antara
absorban dan panjang gelombang
-
Dibuka tutup tempat kuvet
-
Dikembalikan kuvet di tempatnya semula
-
Dinaikkan nilai panjang gelombang menjadi 400nm
dengan menekan tombol naik (berwarna kuning) yang terletak tepat di bawah
display
-
Diulangi untuk setiap kenaikan panjang gelombang
sebesar 50nm sampai mencapai panjang gelombang 750nm
|
Hasil
|
|
Larutan CoCl4-2
|
- Dilihat
kurva yang didapat dari panjang gelombang (350-750 nm)
- Diulangi
langkah langkah seperti pada panjang gelombang dengan kenaikan 50 nm dengan
mengubah kenaikan panjang gelombangnya
menjadi 5 nm
- Digunakan
daerah panjang gelombang yang diduga merupakan panjang gelombang dengan serapan
terbesar
-
Ditentukan
panjang gelombang dengan serapan maksimal
|
Hasil
|
|
Larutan Co(H2O)6+2
|
- Diubah
mode V-spektrometer pada Molarity mode, dengan menekan tombol biru pada
bagian kiri bawah
- Diatur
agar panjang gelombang yang digunakan yaitu panjang gelombang dengan serapan
terbesar. (jangan merubah panjang gelombang ini selama percobaan).
- Divariasikan
konsentrasi larutan dengan mengatur nilai Molarity pada kotak dialog kuning di
sebelah pilihan larutan.
- Diatur
sedemikian rupa sehingga diperoleh data konsentrasi minimal 8 titik data.
- Dicatat
data konsentrasi dan absorban yang terbaca pada V-Spektrometer.
- Ditentukan koefisien korelasi dan persamaan garisnya dengan menggunakan software spreadsheet plot data.
|
Hasil
|
BAB 4.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
4.1.1 Penentuan panjang gelombang dengan
serapan maksimum dari larutan CoCl4-2 dan Co(H2O)6+2
a. Untuk kenaikan 5nm
-
Larutan CoCl4-2 -
Larutan Co(H2O)6+2
|
λ (nm)
|
A
|
|
350
|
0,174
|
|
400
|
0,045
|
|
450
|
0,547
|
|
500
|
0,809
|
|
550
|
0,532
|
|
600
|
0,094
|
|
650
|
-0,053
|
|
700
|
0,186
|
|
750
|
0,117
|
|
λ (nm)
|
A
|
|
350
|
0
|
|
400
|
-0,172
|
|
450
|
0,2
|
|
500
|
0,469
|
|
550
|
0,22
|
|
600
|
0
|
|
650
|
-0,172
|
|
700
|
0,023
|
|
750
|
0,009
|
b.
Untuk kenaikan 5 nm
Dilakukan
dari panjang gelombang 375 - 750
-
Larutan CoCl4-2 -
Larutan Co(H2O)6+2
|
λ (nm)
|
A
|
λ (nm)
|
A
|
|
445
|
0,344
|
505
|
0,818
|
|
450
|
0,547
|
510
|
0,823
|
|
455
|
0,59
|
515
|
0,81
|
|
460
|
0,596
|
520
|
0,79
|
|
465
|
0,596
|
525
|
0,77
|
|
470
|
0,587
|
530
|
0,748
|
|
475
|
0,499
|
535
|
0,716
|
|
480
|
0,634
|
540
|
0,656
|
|
485
|
0,697
|
545
|
0,611
|
|
490
|
0,754
|
550
|
0,532
|
|
495
|
0,786
|
555
|
0,457
|
|
500
|
0,809
|
560
|
0,388
|
|
λ (nm)
|
A
|
λ (nm)
|
A
|
|
395
|
-0,176
|
455
|
0,251
|
|
400
|
-0,172
|
460
|
0,264
|
|
405
|
-0,165
|
465
|
0,268
|
|
410
|
-0,05
|
470
|
0,259
|
|
415
|
-0,024
|
475
|
0,171
|
|
420
|
0,011
|
480
|
0,292
|
|
425
|
0,039
|
485
|
0,349
|
|
430
|
0,063
|
490
|
0,403
|
|
435
|
0,094
|
495
|
0,443
|
|
440
|
0,129
|
500
|
0,469
|
|
445
|
-0,02
|
505
|
0,489
|
|
450
|
0,2
|
510
|
0,498
|
4.1.2 Pembuatan kurva kalibrasi dari larutan standar CoCl4-2
dan Co(H2O)6+2 dengan λmaks = 510 nm
a.
Untuk larutan CoCl4-2
|
dari hubungan konsentrasi
dan absorbansi didapatkan grafik :
|
|
M
|
A
|
|
0,002
|
0,332
|
|
0,004
|
0,664
|
|
0,006
|
0,997
|
|
0,008
|
1,329
|
|
0,01
|
1,661
|
|
0,012
|
1,993
|
|
0,014
|
2,325
|
|
0,016
|
2,658
|
|
0,018
|
2,99
|
|
0,02
|
3,322
|
b.
Untuk larutan Co(H2O)6+2
|
Dari
hubungan konsentrasi dan absorbansi didapatkan grafik :
|
|
M
|
A
|
|
0,002
|
0
|
|
0,004
|
0,038
|
|
0,006
|
0,058
|
|
0,008
|
0,077
|
|
0,01
|
0,096
|
|
0,012
|
0,115
|
|
0,014
|
0,134
|
|
0,016
|
0,154
|
|
0,018
|
0,173
|
|
0,02
|
0,192
|
4.2 PEMBAHASAN
Praktikum spektrometri kali ini yaitu virtual
spektrofotometri. Virtual spektrometer merupakan percobaan spektrometri secara
tidak langsung atau tidak menggunakan alat laboratorium, melainkan menggunakan
media komputer. Kita dapat menggunakan software pada komputer untuk melakukan
percobaan spektrometer ini. Software yang digunakan yaitu virtual spektrometer.
Software ini menggambarkan animasi bentuk dari alat spektrometri di
laboratorium.
Software
ini bekerja seperti alat sesungguhnya sehingga memudahkan kita dalam percobaan
jika terjadi keterbatasan alat di dalam laboratorium dan praktikan melakukan percobaan melalui
media interaktif tanpa bersentuhan dengan bahan kimia. Sama
seperti metode spektrometri menggunakan spektrometer manual, percobaan ini
didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis dilewatkan pada suatu
larutan dengan panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator
prisma atau kisi difraksi dengan detektor. Absorbsi sinar oleh larutan
mengikuti hukum Lambert-Beer.
Terdapat animasi yang tinggal pilih apa yang kita perintahkan maka alat ini
akan menjalankannya. Berikut gambar virtual spektrometri:
Alat diatas menunjukkan pilihan bahan, panjang gelombang,
konsentrasi yang digunakan dalam praktikum, dan nilai absorbansi yang
dihasilkan. Cara kerjanya yaitu sebelum menggunakan pastikan kita memilih apa
yang akan kita ukur, selanjutnya buka tutup alatnya, masukkan sampel, kemudian
akan otomatis menutup dan keluar hasil akan ditampilkan pada layar berwarna
hijau. Jika selesai klik remove dan keluarkan sampel.
Percobaan
ini akan mengetahui serapan maksimum dan hubungan absorbansi dengan
konsentrasi. Sample yang digunakan yaitu Larutan CoCl42- dan Larutan Co(H2O)62+. Pertama kita masukkan
aquades atau blanko pada tempat sampel dengan cara menggeretnya, set panjang
gelombang 350 kemudian buat absorbannya menjadi nol (0) dengan memilih 0 ABS / 100%T.
Percobaan pertama yaitu
menentukan serapan maksimum pada panjang gelombang 350nm-750nm. Percobaan ini
dilakukan dengan dua kali, yaitu dengan kenaikan panjang gelombang 50nm dan 5nm, kemudian dilihat
daerah serapan maksimumnya. Kenaikan
5nm dilakukan agar terbentuk penyempitan kenaikan panjang
gelombang untuk lebih mengakuratkan nilai serapan maksimum yang didapatkan. Panjang gelombang maksimum yang didapat dari
kenaikan 50nm dan 5nm kemudian ditentukan dengan melihat daerah yang nilai
absorbannya paling tinggi. Hasil dari serapan maksimum
pada larutan CoCl42- adalah 0,823 pada panjang gelombang 510nm. Sedangkan hasil dari
serapan maksimum pada larutan Co(H2O)62+
adalah 0,498
pada panjang gelombang 510nm.
Penentuan panjang gelombang ini dilakukan agar mengetahui absorbansi atau
serapan maksimum dari sampel.
Percobaan kedua membuat kurva kalibrasi larutan CoCl4-2 dan Co(H2O)6+2. Sebelumnya atur tipe pengukuran menjadi
konsentrasi pada kotak warna biru. Kurva kalibrasi yaitu menghubungkan
konsentrasi yang merupakan sumbu x sedangkan absorbansi bertindak sebagai sumbu
y. Dari panjang gelombang maksimum yaitu pada panjang gelombang 510 nm dilihat
besar serapannya, kemudian panjang gelombang dari serapan maksimum digunakan
dalam pengukuran kalibrasi untuk memperkecil kesalahan. Kurva
kalibrasi ini didapatkan dengan variasi konsentrasi 0,002 sampai 0,02 M dengan
interval 0,002 pada masing-masing larutan bahan. Dari data yang didapatkan pada
percobaan, dapat diketahui bahwa konsentrasi berbanding lurus dengan absorbansi
dimana semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula nilai absorbansinya.
Hal ini dikarenakan pada
konsentrasi yang tinggi, molekul-molekul dari larutan banyak yang berinteraksi
dengan sinar sehingga lebih banyak sinar yang terabsorbsi daripada yang ditransmisikan. Dari pembuatan
kurva kalibrasi, maka diketahui persamaan garis dan nilai koefisien
regresinya. Selain itu dari grafik untuk larutan CoCl42-
diperoleh koefisien korelasinya 0,989 dan persamaan garisnya y = 9,58x dan untuk larutan Co(H2O)62+ diperoleh koefisien korelasi 1 dan persamaan
garisnya y = 166,11x – 0,001. Koefisien korelasi bernilai 1 atau mendekati menunjukkan bahwa data yang
diperoleh sudah akurat.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan
yang telah kami lakukan kami dapat menyimpulkan bahwa :
1. Prinsip
dari percobaan virtual spektrometri ini sama dengan prinsip spektrometri, namun
yang membedakanya terletak pada praktek langsung bersentuhan dangan bahan dan praktek tidak
langsung bersentuhan dengan bahan.
2. Dari
percobaan didapatkan panjang gelombang dengan serapan tebesar yaitu pada daerah
510 nm. Diperkirakan bahwa larutan CoCl4-2 dan
Co(H2O)6+2 menyerap pada panjang
gelombang 510 nm.
3. Hasil
yang didapat mendekati keakuratan karena nilai relasinya 1.
5.1 Saran
Sebaiknya praktikan lebih memperhatikan langkah
demi leangkah yang dilakukan.
Daftar Pustaka
Anonim. 2010. Spektrofotometri. http://www.chem-is-try.org. 3 November 2012
Anonim. 2008. Spektrofotometer. http://rgm_aisyah’s blog. 3 November 2012 Anonim. 2010.
Aquades. http://id.wikipedia.org. 3
November 2012 Anonim. 2010. Kobalt
Klorida. http://id.wikipedia.org. 3 November
2012 Alfa. 2009. Alfa webBlog
UNESA. http://alfawebblogunesa.blogspot.com/,
3 November 2012 Aisyah. 2008. Spektrofotometer. http://rgm_aisyah’s
blog. 3 November 2012
Bassett, J., R.C. Denney, G.H. Jeffery, dan J. Mendham. 1994. Kimia
Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Perhitungan
1. Untuk
larutan CoCl42- pada panjang gelombang 510 nm dengan absorban
0,823
|
X
(Konsentrasi)
|
Y
(absorbansi)
|
X
- x
|
Y - y
|
r
|
|
0,002
|
0,332
|
0,108
|
17,939
|
0,316
|
|
0,004
|
0,664
|
0,106
|
17,607
|
1
|
|
0,006
|
0,997
|
0,104
|
17,274
|
1,796
|
|
0,008
|
1,329
|
0,102
|
16,942
|
1
|
|
0,01
|
1,661
|
0,1
|
16,61
|
1
|
|
0,012
|
1,993
|
0,098
|
16,278
|
1
|
|
0,014
|
2,325
|
0,096
|
15,946
|
1
|
|
0,016
|
2,658
|
0,094
|
15,613
|
1
|
|
0,018
|
2,99
|
0,092
|
15,281
|
1
|
|
0,02
|
3,322
|
0,09
|
14,949
|
1
|
|
|
|
|
|
|
2. Untuk
larutan Co(H2O)62+ pada panjang gelombang 510
nm dengan absorban 0,498
|
X (Konsentrasi)
|
Y
(absorbansi)
|
X
- x
|
Y - y
|
r
|
|
0,002
|
0
|
0,108
|
1,037
|
1
|
|
0,004
|
0,038
|
0,106
|
0,999
|
1
|
|
0,006
|
0,058
|
0,104
|
0,979
|
1
|
|
0,008
|
0,077
|
0,102
|
0,96
|
1
|
|
0,01
|
0,096
|
0,1
|
0,941
|
1
|
|
0,012
|
0,115
|
0,098
|
0,922
|
1
|
|
0,014
|
0,134
|
0,096
|
0,903
|
1
|
|
0,016
|
0,154
|
0,094
|
0,883
|
1
|
|
0,018
|
0,173
|
0,092
|
0,864
|
1
|
|
0,02
|
0,192
|
0,09
|
0,845
|
1
|
|
|
|
|
|
|

No comments:
Post a Comment